featured article

SEKELOMPOK ORANG ITALIA MENGKLAIM SPOT BUKIT SEBAGAI KEPUNYAAN MEREKA

Selasa, Mei 7, 2013 19 Comments 19 Likes
Likes 19 Comments

SEKELOMPOK ORANG ITALIA MENGKLAIM SPOT BUKIT SEBAGAI KEPUNYAAN MEREKA

Akhir musim penghujan ini mungkin layak untuk dikenang. Beberapa faktor menempatkannya dalam sejarah baru dari berselancar di Bukit. Bukan kualitas dan kuantitas gelombang, meskipun beberapa dari kita pernah merasakan ombak yang konsisten dan bagus di bulan Januari, bukan itu. Hal ini akan diingat oleh orang-orang yang pernah merasakan surfing di spot yang rahasia namun sekarang telah berubah menjadi ramai dan padat (hal ini normal). Hal ini juga akan diingat oleh mereka yang merasakan musim hujan yang terasa seperti musim kemarau selama lebih dari dua minggu (ini tidak normal).  Dan, hal ini juga akan diingat oleh sekelompok orang Italia yang mengklaim bahwa Bukit spot adalah kepunyaan mereka (yang ini sureal).


Pada akhir tahun 2012, kami yang tinggal di Bukit menanti dengan tidak sabar warna hijau berubah menjadi lebih kehijauan, menanti angin untuk bertiup ke Barat, dan menanti ombak right-handers atau ombak left-handers berubah menjadi satu garis ombak besar yang kemudian meninggi menjadi dinding gua ombak yang nantinya akan membentur terumbu karang. Kami, yang biasanya berselancar dalam keadaan sepi dengan dikelilingi oleh bukit-bukit hijau dan dinaungi langit mendung di sebuah spot surfing yang tidak terlalu dikenal oleh banyak orang, sangat menanti keramaian dan kepadatan berubah menjadi keheningan yang menenangkan. Saat-saat kami berselancar itu, bisa saya katakan bahwa kami berada dalam sebuah kondisi spiritual dimana kami menyatu dengan alam, merasakan harmoni yang baik saat kamu mengantri di line-up, saat itulah kamu tahu bahwa moment surfing di Bali itulah yang kamu cintai.

Benarkah itu semua?

  1. Hal yang normal

Memang warna hijau telah berubah menjadi lebih kehijauan, angin telah bertiup ke Barat, dan ombak right-handers telah menjadi sebuah ombak panjang yang sangat indah. Namun, keramaian dan kepadatannya itu, ya para dewa, telah menyatu dan menjadi seperti musim penghujan yang sedang berlangsung. Mereka ada dimana-mana. Tidak ada lagi spot rahasia. Kamu tahu sendirilah. Kamu juga pernah membawa teman ke sebuah spot yang tadinya masih rahasia, dan hanya menunggu waktu saja sebelum akhirnya spot itu dikenal oleh banyak orang. Setiap pergantian musim, kamu menyaksikan peselancar membawa temannya yang juga peselancar ke spot-spot rahasia tersebut (seperti yang kamu lakukan juga) dan setiap musim berganti kamu akan melihat perbedaan spot itu, sebelum  dan setelah dikenal banyak orang. Sebelum dikenal ketika spot tersebut menjadi sebuah tempat berselancar yang sangat menenangkan dan terasa mendamaikan jiwa. Dan setelah dikenal orang, saat kamu berselancar yang kamu rasakan hanya tekanan dan pertarungan dengan peselancar yang lain. Kamu mencemaskan hal tersebut. Yah, berita baiknya, tidak perlu cemas lagi. Musimnya telah datang. Biasakan dirimu.

  1. Hal yang tidak normal

Selama lebih dari dua minggu di bulan Januari dan Februari, angin bertiup dari Timur dan kondisi ini menyebabkan hawa terasa seperti musim kemarau. Hal itu, dalam satu dan dua hal terasa baik. Bukan hanya karena kami suka berselancar di Bukit yang mana ombaknya adalah ombak kelas dunia, tetapi juga karena pada saat-saat ketika angin sedang bertiup ke arah yang sebaliknya kami bisa duduk diam, melihat dan menilai ombak-ombak yang luar biasa indah dari pesisir pantai. Ulus, Bingin, Balangan, Impossibles dan lainnya secara konsisten memberikan pemandangan yang sangat menakjubkan dan menghasilkan ombak-ombak tinggi di tengah-tengah musim penghujan. Walaupun sedang padat dan ramai karena ada banyak gelombang, kita hanya harus berbagi tempat dengan beberapa orang dikeadaan yang sangat sempurna.

  1. Hal yang sureal

Orang-orang Italia mengklaim spot Bukit sebagai kepunyaan mereka. Tempat itu dikenal dengan nama “Pizza spot”.

Benar-benar surreal.

Silakan baca dan nilai sendiri.

Teman saya berasal dari Australia (sebut saja dia “B”) bulan Januari lalu pergi berselancar ke spot yang tadinya tidak terlalu dikenal orang. Ia berenang mengayuh, seperti yang selalu dilakukannya setiap musim penghujan. Ia kemudian sampai di line-up, seperti yang selalu dilakukannya dan ia mengantri dengan sabar menunggu giliran dan ombak untuk datang. Hanya saja kali ini, ia dikelilingi oleh sekelompok orang asing yang belum pernah ia temui sebelumnya dengan tatapan mereka yang tidak ramah.

Bukan hanya tatapan yang tidak ramah. Mereka kemudian berenang mengayuh di sekelilingnya, mengambil jalurnya dan berenang terlalu dalam sehingga ombak yang ia tunggu berlalu begitu saja.

Mereka berselancar seolah-olah tempat itu adalah milik mereka.

“B” baru menyadari hal itu kemudian.

Atau, itulah yang mereka percayai.

Merasa sudah cukup diperlakukan demikian, “B” kemudian tetap berenang di antara mereka. Salah satu dari mereka, untuk kesekian kalinya berenang terlalu dalam dan lagi-lagi akan melewatkan ombak yang akan datang. “B” lalu menyambarnya.

Apa yang terjadi kemudian di line-up adalah munculnya ancaman-ancaman yang sungguh tidak dapat dipercaya, mata-mata melotot dan urat-urat bertonjolan menahan amarah. Sebuah intimidasi yang sangat parah yang belum pernah “B” alami sebelumnya selama di Bali.

Sungguh benar terjadi.

Pemimpin kelompok itu bertindak lebih jauh dengan menyuruhnya keluar dari air.Ya, benar. Keluar dari air.

“Disspotaizanaitalianspota”, kelompok itu berteriak kepadanya.

“Maaf?” tanya “B”

“Dis iz-a an-a Italian spot-a. Ini adalah spot kami, orang Italia. Pergi dan jangan kembali”

“Ini spot apa?”

Semoga para dewa beserta kita.

*Cerita ini adalah benar adanya seperti yang diceritakan kepada kami. Percakapan dan keterangan pada gambar adalah fiksi dan dimaksudkan untuk menyorot sisi humor pada surealisme dari sebuah situasi yang pada hakikatnya cukup menguatirkan. Kami harap pembaca mampu untuk mengapresiasi sisi humornya.

Likes 19 Comments

Leave a Reply

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  1. It’s someone else’s break…… Namely the Locals! So they own it. We are visitors, so act the way you should in someone else’s home. Or go back home and have fun with your brothers and your shitty waves. Italy only gets wind swell anyway, same as the Brasillians with their lame ass beachies. The land of the Gods is about having fun and sharing, leave your attitudes and ignorence at home.

  2. Well I have had the same crap from Auzzies and Americans` There are many Italians here who are fun to surf with,same as many Usa many auzzies and kiwis and french . Everybody just needs to share . We are all the same!! we love surfin. Peace and respect one another!

  3. I have meny Italian friends, and all of them are very good and know how to hang with other nationality. very sad attitude these guys are. Surf trip are have to be laern something from respect other people.

  4. As italian i feel ashamed of those ass holes.unfortunately is full of those dickheads around nowdays,and not only italians.they surfed bali for some time now so they act like they own the place:surf is changing unfortunately!

  5. You better be named Made ,Wayan ,Ketut, Nyomen , before you play that B.S. Cant wait to meet these clowns, Wont prevoke but will set them strait. Or ? meet Komang my bro.

  6. Outsurf them, outsmart them. Never heard that crew claim it was their spot, they did try to act like it sometimes… Erroneous claims wither under displays of local knowledge and skill.

  7. donta messa wit da sicilians…just take away their pasta…don’t tell me there aren’t worse people in the water… the italians just have to have it explained..

  8. I was there whit some brazilian surfers and the same thing happened… but thank’s for the “agro” brazilian way the “italian local” got punched in the face to don’t talk shit anymore… haha kooks…

  9. Ha ha, hard to believe! They probably come up from Canggu or Echo, looking for a better home? Cazzo…., if the invasion persists will bring out the battle ship…..:-)

  10. I surf that spot for 3 years with only a few guys. We called the place Pizza Point . Its a nice 3 to 4 foot fun left and very suitable for euro surfing . Its all over now in Bali with big crowds.

    • yes its called pasta point- and most of them stay at a very nice place nearby which is run by a great guy who makes the best pizza in Bali .A dreadlocked ITALIAN with average surf skills and a few of his minions think they own this spot– repeatedly dropped in on my son Ben , Rio .,and Febri aka “biawak ” …–lets hope they are more courteous this wet season -it would be very easy to bring a few of the Bali Boys out to “pasta point ” and sort things out- or perhaps stop by the hotel nearby where they all stay at and enjoy a cold beer and authentic pizza with the new locals……