featured article

TOLERANSI BERAGAMA DI BALI: SEBUAH INSPIRASI

Rabu, April 29, 2015 3 Comments 9 Likes
Likes You may like only once 3 Comments

TOLERANSI BERAGAMA DI BALI: SEBUAH INSPIRASI

Sebuah lokasi bangunan agama di Semenanjung Bukit, di wilayah Bali Selatan, mewakili ajaran filsafat Bali tentang toleransi umat beragama dan kemungkinan sekali menjadi satu-satunya di dunia. Ini juga menjadi pengingat akans ebuah pesan yang sangat kuat bagi kita semua untuk menjalankan toleransi beragama dan ikut mengambil bagian di dalamnya, supaya dibawa pulang kerumah, dan menyebarkannya.

Pada saat sebagian besar penduduk dunia sedang dibombardir oleh berita-berita tentang perang dan kekejaman yang diselubungi oleh tabir dan kefanatikan agama, kita, orang-orang yang dibom oleh berita-berita tersebut harus memperhatikan pada dua hal dibawah ini:

Pertama, kita harus mencoba untuk melihat apa yang menjadi motif sebenarnya mereka berperang dan melakukan tindak kekerasan. Untuk melakukan itu, kita harus mencoba untuk menyelidiki atau setidaknya menebak apa yang memotivasi para pemimpin tersebut dari sisi yang berbeda dalam menciptakan dan melestarikan konflik yang terjadi. Jika kita menyimpulkan bahwa motif utama mereka bukanlah masalah agama melainkan alasan yang berbeda, maka kita harus bertanya pada diri kita sendiri mengapa mereka mengenakan jubah agama sebagai alasannya. Untuk menjawab pertanyaan ini dikembalikan kepada Anda sendiri untuk menjawabnya dan juga diluar lingkup tulisan ini.

Kedua, kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah kita ingin atau tidak ingin menjalankan toleransi agama. Dan jawaban atas pertanyaan ini benar-benar, terserah kepada Anda. Tapi jika Anda memutuskan bahwa Anda ingin menikmati dan mempraktekkan agama atau keyakinan Anda dalam damai dan kemudian Anda bisa merangkul perbedaan agama yang ada dan menghormati dan mencintai bagaimana orang lain juga menjalankan iman mereka dalam damai, maka Anda akan sangat menghargai kerukunan umat beragama yang ada di Bali.

Pulau Bali sangat dipengaruhi oleh tradisi masyarakat Hindu-Bali.

Ajaran agama Hindu-Bali hadir di mana-mana, dan disepanjang waktu.Susunan Pura dari yang terbesar atau yang terkecil mempunyai tingkat struktur yang berbeda yang sesuai dengan ajaran agama tersebardiseluruh pulau. Dengan arsitektur terbuka yang indah dimana dindingnya mempunyai ukiran rumit kelihatan seperti tumbuh alami dari dalam tanah. Anda berada di Bali dan masyarakat Bali adalah pemeluk agama Hindu. Diseluruh pulau, setahun sekali perayaan besar seperti Galungan, Kuningan dan Nyepi, dirayakan mengikuti Kalender Bali. Upacara Bulan Purnama, dirayakan dengan ukuran yang lebih kecil, menambah lagi 12 hari dalam setahun ketika semua masyarakat Bali meluangkan waktu mereka untuk berkumpul bersama melakukan ritual keagamaan. Upacara kecil, perayaan dan pesta di daerah, pada tingkat masyarakat atau keluarga mengisi hari-hari yang tersisa dalam setahun. Doa ritual harian bisa terlihat jelas dilakukan setiap hari. Seluruh dan setiap upacara mengharuskan untuk memakai pakaian adat Bali yang khusus dan khas sehingga menambahkan lagi rasa hadirnya roh pada setiap upacara harian di Bali. Jadi ya, Anda berada di Bali dan masyarakat Bali adalah umat Hindu.

Tapi Bali sangat toleran. Orang-orang dari kepulauan lain di Indonesia dan orang-orang dari negara-negara di seluruh dunia tinggal di pulau ini untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Bali mengakomodasi mereka dan juga menerima agama mereka. Pada hari Jumat, umat Muslim terlihat datang dan pergi dari masjid dengan mengenakan jubah sembahyang dan kopiah. Pada hari Minggu, umat Kristen terlihat datang berbondong-bondong ke ibadah gereja mereka masing-masing. Kuil umat Buddha, meskipun lebih sedikit, dapat ditemukan di berbagai sisi lain pulau ini dan biksu Budha dapat ditemui berjalan tanpa alas kaki naik dan turun pada jalan-jalan di Bukit. Ya Bali memang toleran, tetapi Anda mungkin membantah bahwa Bali tidak ada bedanya dari beberapa kota besar atau wilayah lain di dunia. Dan Anda mungkin benar.

Tapi lihatlah ini:

Sebagai peselancar yang berselancar di area Bukit pada saat musim hujan, Anda mungkin akan melewati tempat ini. Nama tempat tersebut ialah Puja Mandala. Sebuah pusat ibadah multi-agama yang mungkin termasuk unik di dunia dan terletak di salah satu perbukitan yang menurun menuju ke arah Nusa Dua, di mana Anda biasa lalui ketika mengendarai sepeda motor atau mobil Anda untuk mengejar sejumlah ombak yang bagus. Anda mungkin tidak sengaja hanya melewatinya atau kemungkinan Anda telah memperhatikan dan sedikit berpikir tentangnya. Ayo, mari kita coba berpikir beberapa tentangnya.

Untuk toleransi beragama … dan perdamaian dunia (ehem …)

Tempat ini mengakomodasi rumah ibadah dari 5 agama dunia (5 agama yang diakui oleh sistem hukum di Indonesia), gereja Katolik, gereja Protestan, Masjid, Kuil umat Budha, dan tentu saja, Pura umat Hindu Bali. Seperti yang Anda pikirkan, tempat ini tidak muncul alami begitu saja dari dalam tanah, dengan kata lain, tempat ini tidak bisa dibangun tanpa perencanaan sebelumnya atau dengan tujuan yang tergesa-gesa. Tidak mungkin bisa dibangun. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin oleh karena sesuatu, 5 jemaat agama yang berbeda membangun rumah ibadah mereka bersebelahan satu sama lain? Tidak, itu tidak akan terjadi. Bagaimanapun juga tidak akan bisa. Semuanya harus direncanakan bahkan sebelum lahannya tersedia. Tapi, oleh siapa? Dan yang paling penting lagi, mengapa?

Untuk menjawabnya (kita harus dalam suasana hati yang sedang ingin mencari jawaban), bayangkan ini: bayangkan bagaimana menciptakan sebuah tempat di mana 5 agama besar dunia bisa hidup berdampingan, di mana jemaat mereka bisa saling memberikan salam sebelum memasuki rumah ibadah mereka dan saling menyapa saat mereka pergi, di mana satu-satunya perhatian tertuju kepada kelima rumah ibadah yang berdiri berdampingan satu sama lain adalah menakjubkan, di mana tampaknya yang tak terpikirkan menjadi kenyataan. Bayangkan sebuah tempat yang tidak dapat ditemui di dunia, sebuah tempat yang menentang pengalaman umum, yang menentang pengetahuan umum, bahkan yang menentang akal sehat. Siapa yang mau datang ke tempat tersebut? Siapa yang akan mengunjunginya? Siapa? Dan yang lebih penting lagi, berapa banyak dari mereka yang mau berkunjung?

Sekarang Anda mungkin membayangkan bahwa alasan sederhana di balik pendirian bangunan tersebut, tempat tersebut, adalah untuk tujuan pariwisata. Sebab tempat seperti yang telah Anda bayangkan, harus seefektif mungkin bisa menjadi daya tarik wisata. Selain tempat tersebut berdekatan dengan daerah tujuan wisata, lokasinya tepat berada di pulau tempat tujuan wisatawan. Tempat tersebut harus bisa menjadi daya tarik yang akan membawa bus-bus berisi parawisatawan. Dan juga untuk menarik wisatawan dari berbagai agama, termasuk penganut paham humanis, dan juga agnostik, dan bahkan atheis! Anda sedang membayangkan seseorang atau sekelompok orang-orang yang menyadari betapa mustahil dan uniknya mendirikan tempat tersebut dan karenanya membuat sesuatu yang menjadi daya tarik luar biasa bagi wisatawan.

Dan Anda benar. Salah satu alasan utama, jika bukanlah alasan terpenting, adalah untuk menjadikan tempat tersebut menjadi tempat daya tarik wisata.

Bahkan, makna dari Puja Mandala adalah Lingkaran Doa,Gelanggang Doa,Panggung Doa,sudah dibayangkan oleh pelopor pariwisata Indonesia, Bapak Joop Ave. BapakJoop Ave, meninggal dunia pada tahun 2014 pada usia 79tahun, memiliki karir yang luas, bekerja pada pemerintah Indonesia di bidang diplomasi dan hubungan luar negeri. Tapi dia terkenal karena telah memainkan peran utama dalam pengembangan industri pariwisata Indonesia di masa pemerintahan Soeharto, pertama ketika beliau diangkat menjadi Direktur Jenderal Pariwisata pada tahun 1982 dan kemudian diangkat sebagai Menteri Pariwisata, Pos & Telekomunikasi Republik Indonesia (1993-1998).

Sekarang ini pikiran Anda penuh dengan pikiran yang sinis dan membuat Anda kehilangan gambaran sebenarnya. Anda berkata, “Penggunaan ide tentang kerukunan beragama untuk menarik pariwisata bertentangan dengan tujuan agama sebenarnya.” Jadi ketika Anda melewati tempat tersebut, Anda harus berhenti dan menghentikan kendaraan Anda sebentar untuk berpikir tentang ide ini. Atau Anda pergi berselancar terlebih dahulu dan setelahnya ketika Anda sudah berada di hotel dan kamar hotel Anda, dan melakukan latihan yoga tapi Anda tetap tidak bisa menemukannya karena ide yang sama masih mengganggu pikiran Anda.

Marilah pertimbangkan tentang ini. Ketidakmungkinan mendirikan 2 tempat ibadah dari agama yang berbeda, sepertinya karena seseorang hanya fokus dengan agamanya sendiri, dan karena mereka takut akan tetangganya yang berlainan agama. Para pemimpin agama tidak menyukai kompetisi dari agama lain. Setiap orang yang berpindah agama ke agama yang lain dapat menurunkan kredibilitas pemimpin agamanya dan itu dapat dilihat kecuali orang tersebut pindah ke agama mereka. Tapi ya, mereka berkompetisi mendapatkan jemaatnya, tapi mereka tidak mau terlalu terlihat. Biasanya mereka tidak maumembangun rumah ibadah berdekatan dengan alasan tersebut. Hal ini pernah terjadi, dan tentu saja bisa terjadi di dunia ini. Tapi 5 tempat ibadah agama yang berbeda berada pada tempat yang sama dan pada waktu yang sama sangat mengagumkan.

Ada beberapa alasan mengapa mengapa hal ini menakjubkan. Alasan pertama adalah: Para pemimpin agama setuju dan memberi dukungan untuk membangun Puja Mandala yang mana ide ini sempat dipertanyakan karena agama yang berbeda, pemimpin agama dan masyarakatdari agama tersebut takut dan tidak percaya satu sama lain.

Alasan kedua adalah: bangunan agama ini tidak palsu, atau tidak terbuat dari kertas, bukan bagian dari pertunjukan film, yang bertujuan menarik perhatian wisatawan untuk mengambil gambar disana. Dan bahkan tidak ada biaya untuk masuk kedalamnya. Bangunan ini nyata. Setiap agama mempunyai jadwal pelayanannya ibadah dan pelayanan komunitas dan grupnya masing-masing. Umat agama hadir dan beribadah di tempat ibadah mereka masing-masing, dan menyadari bahwa orang-orang dari agama yang berbeda sedang melakukan hal yang sama dan keduanya memiliki hak untuk melakukan kewajiban ibadah agamanya dan menghormatinya. Orang-orang yang hadir tahu bahwa mereka harus hidup harmonis satu sama yang lainnya. Salah satu pemeluk agama berkata, “Saya merasakan perasaan yang spesial ketika berdoa di tempat ini.Sukar dijelaskan, tapi saya seperti tinggal di dunia yang lebih harmonis dan aman, mengetahui bahwa tetangga dan orang-orang lainnya berada di tempat ibadah mereka dan kami saling menghormati satu sama lain.”

Alasan ketiga adalah: Hal ini terjadi di Bali, dimana merupakan pulau kecil di kepulauan Indonesia dengan agama dan budayanya yang unik, yang membuat hal ini bisa terjadi, dimana tidak ada aturan yang ketat, peraturan dan larangan akan ancaman dari pengaruh asing. Bali menerima dan menyambut orang-orang dari seluruh dunia. Selama mereka bisa melewati pemeriksaan Imigrasi tentunya, dan menghormati ibadah agama yang dijalankan terlepas dari agama mereka masing-masing.Oleh karena itu Joop Ave dan rekan-rekannya memilih Bali sebagai lokasi bangunan.Pemeluk agama lainnya berkata, ”Saya berharap hal ini bisa menjadi inspirasi bagi bagian dunia lainnya.Saya berharap orang-orang bisa melihat bagaimana kami bisa hidup berdampingan dan menjalankan agama masing-masing dengan harmonis”.

Alasan keempat adalah: Kita sudah berada di Bali dalam waktu yang lama, kerukunan dan toleransi beragama sudah ada. Anda mungkin tidak berpikir tentang contoh bagus yang diberikan oleh tempat peribadatan ini dalam perjalanan ke atau dari  berselancar di Nusa Dua.

Alasan kelima adalah: Karena Anda pernah datang ke Bali atau Anda tinggal di Bali, Anda sudah tahu bahwa kerukunan antar umat beragama sudah berjalan dengan baik. Pada saat ini kerangka pikiran tersebut sangat berharga. Bapak Joop Ave juga memahami pentingnya pesan tersebut terkirim ke seluruh wilayah di Indonesia. Bahkan, dia berharap tempat peribadatan ini bisa menjadi seberkas harapan untuk kehidupan yang harmonis antar umat beragama di seluruh dunia.

Alasan keenam adalah: Pulau kecil ini menerima lebih dari jutaan pengunjung setiap tahun. Merupakan tempat tinggal tetap atau rumah sementara bagi ratusan ribu atau jutaan pendatang. Bali sedang dipengaruhi dan dengan perlahan diubah budayanya oleh jutaan orang-orang yang datang dengan budaya mereka. Pulau kecil ini, telah, sedang dan akan mempengaruhi kembali jutaan pendatang asing dengan pesan yang kuat dan hebat tentang kehidupan yang harmonis dan bertoleransi, tidak peduli apa agama mereka, dan tidak peduli apa yang menjadi keyakinan mereka.

Berpikirlah tentang hal ini, taruh ke dalam pikiranmu, bawa pesan ini ke rumahmu dan sebarkanlah.

Berterimakasih dan bersyukur.

Salam Damai.

nama2-t-ibadah-IN

Likes You may like only once 3 Comments

Leave a Reply

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × four =

  1. So what do all the religion’s have in common ???
    Awsome no 1 Their teacher is dead !
    no 2 , they believe in an external GOD .
    No 3 They Pray !
    Then they add their thoughts from the mind .
    When your time is spent with a ‘living master’
    Its KNOWLEDGE of the self .
    Therein lies a journey of peace for this life time .
    ‘ Know thyself ‘ find freedom & peace , jeffro .
    http://www.wopg.org

    Users who have LIKED this comment:

    • avatar
  2. It’s very inspirational article. I think it’s only in Indonesia where different religious place can be together in one place.

    Users who have LIKED this comment:

    • avatar
  3. A very good article and I hope it inspires other countries. As a surfer in Bali, I always think about waves and waves. This article makes me realize that peace is the best thing that we must do as human being in this planet.

    Users who have LIKED this comment:

    • avatar